Minggu, 27 September 2009

Teater Religi "Brama Kumbara Modern"

Sanggar semu, nyata mengundang kita, termasuk njenengan saya dan kita semua. Untuk apa? untuk sekadar melenggangkan langkah sejenak, sekadar tersenyum bersama, sekadar bersama dalam dunia ha ha ha, sekadar bersilaturahim bersama, dengan teman-teman dari JOGJAJE, IMAMTA, dan juga Rekan-Rekan SMA MTA.

Melihat brama kumbara modern, saya sangat antusias mengikutinya. Karena ini adalah pertama kalinya saya tampil di publik umum dengan pakaian yang bisa di bilang busana kerajaan, kerana memang itulah peran saya sebagai Patih Gotawa.

Hah, banyak teman saya bilang "kamu kog galak banget"..ha ha ha! ya emang itu peran saya di Brama Kumbara, seorang patih yang keras dan gagah.

Acara ini lumayan besar dengan biaya yang tidak sedikit, orang yang banyak, tenaga dan waktu yang banyak pula. Maka ketika sudah bergabung dengan All Crew di Brama Kumbara, harus kerja yang total, sudah kepalang basah orang bilang.

Acara ini disponsori oleh :
  • Percetakan Al Abrar Surakarta
  • Mini Market Dirgantara Surakarta
  • Air Minum Kesehatan KAAFUR Surakarta
  • Untung Abadi Motor Solo
  • RSU. Ja'far Media Munggur (cepat, akurat, dan islami)
  • Majalah RESPON Surakarta (Kritis, santun, menuju kebaikan)
  • ACS “Alif Cipta Selaras Yogyakarta” (Computer&assesoris)
  • Internasional Computer Surakarta
  • Konveksi STAR Surakarta
  • MAESTRO Sport&Musik Yogyakarta
  • Wedang Kampus Surakarta
  • Sate BAROKAH Gemolong
  • Bilqis Food Yogyakarta
  • 107,9 MTA FM
  • Jogjaje.net (sebuah karya dalam warna)
  • Mta-online.com (guide you back to the right track)

Galery :

Senin, 27 April 2009

Pendakian Sumbing



Setelah lama tak menulis tentang pendakian, akhirnya kali ini kami mencoba menyajikan pendakian Gunung Sumbing yang kami alami. Gunung Sumbing adalah gunung tertinggi ke dua di Jawa Tengah dengan ketinggian mencapai 3.371 meter di atas permukaan laut. Gunung ini berhadapan dengan Gn.Sundoro yang dikenal sebagai gunung kembar. Jalan menuju ke puncak pun terjal dan penuh liku. Sebuah petualangan yang sangat menarik dan menakjubkan.

Seperti halnya gunung-gunung di Jawa lainnya, setiap tanggal 1 Suro (tahun baru Jawa) dan tanggal 21 Poso (bulan Jawa), sudah menjadi tradisi masyarakat setempat untuk melakukan jiarah ke puncak Gn. Sumbing. Di mana terdapat makan Ki Ageng Makukuh. Menurut kepercayaan penduduk setempat agar selamat dan terhindar dari mara bahaya, anak-anak dibiarkan berambut Gimbal. Masyarakat lereng Gn.Sumbing sangat menyukai kesenian tradisional seperti Kethoprak, Kuda Lumping atau Jathilan, kesenian ini sering dipentaskan di setiap desa.

Pendaki harus benar-benar menghormati kebiasaan penduduk lereng gunung Sumbing, banyak pantangan yang harus diperhatikan diantaranya tidak merusak tanaman, tidak mengganggu kebun penduduk, tidak membuang sampah, berhati-hati jika menyalakan api karena rawan kebakaran, berlaku sopan, tidak sombong, ramah bila berjumpa penduduk, tidak mengeluh, dan tidak buang air di sembarang tempat.

Sebaiknya pendaki tidak meletakkan barang-barang diluar tenda karena gunung Sumbing masih agak rawan. untuk itu sikap ramah, sopan dan penuh waspada para pendaki sangat diperlukan.

Gunung ini dapat didaki melalui dua rute yakni dari Base Camp Garung yang berada di desa Garung, kecamatan Kalikajar, kabupaten Wonosobo. Atau dari Base Camp Cepit, yang berada di desa Pagergunung, kecamatan Bulu, kabupaten Temanggung.

RUTE GARUNG

Sebenarnya jalur yang Anda tempuh untuk mencapai ke gunung ini sama dengan perjalanan menuju Gunung Sundoro. Dari Purwokerto naik bus besar jurusan Semarang, melewati Wonosobo, begitu juga sebaliknya. Kalau ke Gunung Sundoro Anda turun di desa Kledung, maka untuk mencapai Gunung Sumbing Anda harus turun di depan gapura desa Garung. Desa ini terletak di jalan menurun arah Wonosobo.
Berjalanlah sekitar 500 meter atau dapat juga naik ojek menuju ke Base Camp. Tidak lama, paling 15 menit berjalanan kaki. Di desa Garung  ini tidak ada losmen untuk bermalam. Namun, Anda bisa bermalam di rumah kepala desa, sekaligus mendapatkan informasi mengenai Gunung Sumbing. Alamat lengkap Base Camp Garung: STICK PALA ( Satuan Induk Bocah Bocah Karang Taruna Pecinta Alam ). Desa Butuh, Dusun Garung, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak sekitar 8 jam dengan menempuh jarak 7 km. Mulai dari Base Camp Anda sudah menemui lajur yang menanjak. Setelah tanjakan pertama Anda akan melewati kebun sayur, tetapi jalannya tetap menanjak.

Jalur lama udah jarang dipake karena terlalu terjal buat pendakian dan relatif kurang aman. KM IV dimulai dari Bosweisen (batas ladang dan hutan) Kondisi jalan tanah liat dan tanah merah berpasir, di kanan kiri jalur rerumputan dan pepohonan kecil. Perjalanan akan semakin menanjak melewati dua buah bukit yakni bukit Genus dan Sedlupak. Jalan berupa tanah merah berpasir.   

Jalur Baru Setelah melewati ladang pertanian sampailah di perbatasan hutan di kawasan Bosweisen (batas ladang dan hutan) yang merupakan batas KM III. Kondisi jalan berupa tanah liat dan tanah merah berpasir. Di sepanjang kawasan ini terdapat beberapa jenis burung dan ayam hutan.

Kemudian melewati hutan pinus yang lumayan tebal. Namun, jika mau mendirikan tenda di sini kurang aman. Karena banyak binatang liar yang ada di sana.

Setelah menyeberangi sungai di Kedung terdapat Pos peristirahatan Pos I. Perjalanan selanjutnya kita akan sampai di Pos II (Gatakan) pada ketinggian 2.240 mdpl. Di pos ini pendaki dapat mendirikan tenda, dibandingkan tempat lain, tempat ini cukup terlindung dari hempasan angin kencang, disamping itu pendaki dapat mengambil air bersih dari sungai yang tidak terlalu jauh. 

Di Pestan (Peken Setan/Pasar Setan) pada ketinggian 2.437 mdpl, terdapat tempat terbuka yang cukup luas, pendaki dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Di sini jalur lama dan jalur baru bertemu. Kawasan ini tidak ada pohonnya berupa padang rumput dengan sedikit pohon kecil, sehingga angin kencang sering menerpa tenda. Selain itu pendaki harus waspada karena sering ada badai yang cukup besar dan berbahaya. Kondisi jalan berupa tanah merah berpasir.

Selanjutnya kita sampai di Pasar Watu dimana banyak terdapat batu berserakan. Di depannya dinding batu berdiri. Jalur disini kelihatannya rawan soalnya bener-bener terbuka dengan kanan dan kiri jurang. Pendaki harus mengambil jalan kekiri sedikit menurun mengelilingi dinding batu terjal. Jangan mengambil jalan lurus dengan cara memanjat dinding terjal ini karena jalur ini buntu.

Dengan cara menelusuri sisi-sisi batuan terjal, Kemudian kita akan tiba di Watu Kotak (2.763mdpl) sebuah batu yang besar seperti kotak yang memiliki ceruk, dapat digunakan untuk berlindung dari tiupan angin dan hujan. Di tempat ini ada sedikit ruang untuk mendirikan tenda kecil. 

Selanjutnya kita akan melewati Tanah Putih, yang berupa batuan kapur. Jalur sangat berat, terjal dan berbatu-batu, sebaiknya berhati-hati karena batu-batu mudah jatuh menggelinding ke bawah baru kemudian sampai di puncak. Untuk menuju kawah ambil arah sebelah kanan sedangkan untuk menuju puncak lurus ke atas. Di puncak gunung terdapat musang gunung yang hidup di lubang-lubang batu di dinding kawah. Musang ini dengan berani mendekati pendaki untuk mencari sisa-sisa makanan.

RUTE GARUNG JARAK KETERANGAN


KM 1 Dari gapura desa garung ke basecamp, jalan kaki sekitar 15 menit atau naik ojeg
JALUR LAMA
KM 2 Kebun penduduk
KM 3 Kebun penduduk
KM 4 Pendakian akan melewati hutan pinus
KM 5 Melewati bukit Genus dan bukit Sedlupak, jalur sangat curam dan sangat berat
JALUR BARU
KM 2 Kebun penduduk
KM 3 Kebun penduduk
KM 4 Pendakian akan melewati hutan pinus, kemudian menyeberangi sebuah sungai di Kledung
KM 5 kemudian kita akan sampai di Shelter II di Gatakan dengan ketinggian 2240 mdpl
KM 6 Jalur lama dan jalur baru akan bertemu di Pestan, pendaki dapat beristirahat atau mendirikan tenda di sini. Di tempat ini tidak ada pepohonan
Pasar watu banyak sekali terdapat batu-batu berserakan.
Watu kotak, sebuah batu besar berbentuk kotak yang dapat digunakan untuk berlindung dari hempasan angin kencang atau hujan.
KM 7 Dari Watu Kotak menuju Tanah Putih kemudian menuju puncak, memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan jalur yang sangat berat dan berbatu-batu. Untuk menuju kawah ambil arah sebelah kanan sedangkan untuk menuju puncak lurus ke atas. 


RUTE CEPiT

Dari Yogya naik bus ke Magelang, disambung ke Temanggung, turun di Parakan. Perjalanan di mulai di Base Camp Cepit yang terletak di desa Pager Gunung, kec. Bulu, wilayah Temanggung, Jawa Tengah. Perjalanan terbaik dilakukan pada malam hari sekitar pukul 21.00, sampai di puncak menjelang pagi, sehingga sempat melihat Sunrise dari puncak gunung. Selain itu perjalanan di malam hari dapat menghemat air minum, karena di sepanjang jalur tidak terdapat mata air.
Pertama kali kita akan berjalan di jalan aspal selama kurang lebih satu jam melewati kebun sayur penduduk. Kemudian kita akan mendaki sekitar dua jam memasuki kawasan hutan, selanjutnya kita akan sampai di padang rumput. Setelah itu kita akan bertemu dengan Batu Kasur dan Batu Lawang.

Jalur menuju puncak sangat sempit dan menanjak, sehingga sangat melelahkan, kita perlu sangat berhati-hati dan menjaga stamina tubuh. Puncak Gunung Sumbing berbentuk kaldera kecil yang bergaris tengah 800 meter, dengan kedalaman 50-100 m dan beberapa puncak yang runcing. Untuk menuju puncak tertinggi harus turun lagi ke arah kanan dan kemudian naik lagi.

Terdapat lautan pasir, terdapat juga makam leluhur masyarakat setempat yang dikenal dengan sebutan Ki Ageng Makukuhan. Ada beberapa gua salah satunya dikenal dengan nama Gua Jugil yang merupakan gua terbesar. Di kaldera banyak kawah kecil yang berasap belerang. Pemandangannya sangat indah sehingga kita akan merasa enggan untuk meninggalkan puncak tersebut.


RUTE CEPIT
1 Base Camp Cepit
2 Kebun penduduk Lama perjalanan sekitar 1 jam dari Base Camp
3 Kawasan hutan Lama perjalanan sekitar 2 jam
4 Padang rumput
5 Batu Kasur
6 Batu Lawang
7 Kaldera
8 Puncak puncak tertinggi harus turun lagi ke arah kanan dan kemudian naik lagi


Selamat mendaki... dan hati2 lah di jalan!!! Cintailah alam dan jangan merusakNya!!!!

Minggu, 22 Februari 2009

Pendakian Merbaboe Mount 3142 mdpl



Gunung Merbabu dan G. Lawu keduanya amat serupa. Kedua gunung tsb tidak mempunyai kawah yang aktif karena tergolong gunung api tua, dan berbentuk dataran tinggi yang lebar dan terpisah puncak-puncaknya akibat erosi dan hampir kehilangan hutan alamnya.


Dari arah selatan, di desa Selo kita bisa menuju ke G. Merapi maupun G. Merbabu (Lihat G. Merapi). Jalur yang lainnya yaitu dan arah utara; Kopeng, yang hanya menuju G. Merbabu.

Dengan bis dari Jogyakarta kita menuju Magelang kemudian dilanjutkan menuju Salatiga dari sini perjalanan diteruskan ke Kopeng. Di Kopeng terdapat Hotel manpun Losmen dan Taman Wisata serta dapat dipergunakan untuk berkemah. Dari Kopeng kemudian perjalanan diteruskan menuju desa Tekala. Di desa Tekala hendaknya para pendaki melengkapi perbekalan yang dirasa masih kurang, dan air harus dipersiapkan untuk pendakian maunpun kembalinya secara cukup, karena dalam perjalanan ini tidak ada mata air sama sekali. Pemandu pendakian juga bisa ditemui di desa ini.

Perjalanan akan melalui kebun sayur dan kebun akasia, terus naik sampai ke punggung gunung dan kita akan menjumpai sebuah pondok yang telah rusak yang berada di ketinggian 2400 m. dari permukaan air laut. Dari pondok rusak menuju ke puncak melalui lagi punggungan gunung dan dimana dapat terlihat pemandangan yang sangat indah dengan leluasa tanpa terhalang pepohonan. Di puncak yang pertama terdapat sebuah pondok untuk mengukur cuaca yang betada pada ketinggian 2.800 m. dari permukaan air laut. Dari sini kita akan menuju puncak tertinggi yang sudah terlihat jelas didepan kita dengan membutuhkan waktu 1 1/2 jam perjalanan. Ditengah perjalanan kita akan menemui bekas kawah dan punggung gunung terjal dan curam. Seluruh perjalanan dari Kopeng menuju puncak memakan waktu 8 jam dan turunnva membutuhkan waktu 5 jam.

Apabila kita ingin mengadakan pendakian yang praktis atau pendakian marathon Merapi-Merbau, kita bisa rnulai mendaki dari desa Selo Kabupaten Boyolali ,Akan tetapi mendaki G. Merbabu dari desa Selo cukup terjal dan melelahkan. Lagi pula kita harus mendaki sebuah gunung lagi yang tingginva hampir sama dengan puncak G. Merbabu. Tetapi tidak ada salahnva untuk mencoba. Total perjalanan dari desa Selo ke puncak Merbabu 6 - 7 jam, dan turunnya 5 jam.

Jumat, 09 Januari 2009

Musim Hujan Datang, Rentan Terkena Gangguan Penglihatan

Musim sedang susah ditebak. Langit yang semula cerah bisa mendadak mendung sehingga menghambat pandangan dan memicu glaukoma.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan curah hujan akan terus meningkat, terutama pada puncak musim hujan pada Desember hingga Januari mendatang. Tidak hanya merebaknya penyakit infeksi, musim hujan ternyata juga bisa menyebabkan gangguan penglihatan yang disebut glaukoma. Gangguan ini disebabkan peningkatan tekanan bola mata, dengan gejala khas penyempitan lapang pandang.

Mekanismenya, saat akan turun hujan, biasanya terjadi mendung dan cahaya di sekitar kita otomatis akan meredup. Nah, ketika cuaca lebih redup, pupil mata cenderung lebih lebar sehingga sudut antara bagian kornea dan iris menyempit. Akibatnya, proses pengeluaran cairan dalam bola mata yang disebut aquos humor menjadi tidak lancar. Dengan begitu, tekanan bola mata pun meninggi dan mencetuskan serangan glaukoma. Selain disebabkan cahaya yang menggelap, serangan glaukoma juga bisa dipicu oleh pemakaian tetes mata yang melebarkan pupil atau bisa juga timbul tanpa adanya pemicu.

"Glaukoma akut primer sudut tertutup lebih sering terjadi pada malam hari atau saat cuaca mendung ketika musim penghujan, terutama rentang bulan November hingga Januari," ujar dokter spesialis mata dari Jakarta Eye Center (JEC), dr Ikke Sumantri SpM.

Episode akut dari glaukoma sudut tertutup dapat menyebabkan penurunan fungsi penglihatan yang ringan, terbentuknya lingkaran berwarna di sekeliling cahaya, atau nyeri pada mata dan kepala. Gejala tersebut berlangsung hanya beberapa jam sebelum terjadinya serangan lebih lanjut. Serangan lanjutan menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan secara mendadak dan nyeri mata yang berdenyut. Pada kasus tertentu, bisa disertai mual dan muntah, kelopak mata membengkak, mata berair dan merah.

"Glaukoma akut biasanya terjadi secara mendadak. Tiba-tiba penglihatan kabur, sakit mata, sakit kepala, dan mata merah sehingga penderita cepat menyadarinya. Berbeda dengan glaukoma kronis yang kerusakannya perlahan-lahan sampai menahun dan kemudian jaringannya mati sehingga kerap tak disadari," sebut Ikke.

Memang tidak semua orang rentan terkena glaukoma. Biasanya ini terjadi pada mereka yang sudah punya "bakat" glaukoma atau tergolong kelompok risiko tinggi glaukoma, baik yang disebabkan keturunan ataupun faktor lain, seperti trauma dan usia lanjut. Untuk itulah, orang dengan risiko tinggi glaukoma (terutama usia 40 tahun ke atas) disarankan rutin memeriksakan kesehatan mata ke dokter.

Penderita glaukoma juga terkadang sensitif terhadap cahaya yang terlalu terang atau menyilaukan. Hal tersebut tentunya bisa mengganggu aktivitas, misalkan saat menyetir mobil pada malam hari dan berpapasan dengan mobil lain. Untuk itu, upayakan untuk membawa teman atau keluarga saat menyetir atau suruh mereka yang menyetir. Akan lebih baik lagi bila penderita tidak menyetir pada malam hari.

Sebagian besar gejala glaukoma akan menghilang setelah pengobatan. Namun, patut diingat bahwa serangan tersebut bisa berulang, dan setiap serangan susulan akan semakin mengurangi lapang pandang orang yang bersangkutan. Pengobatan dengan laser biasanya dilakukan sebagai langkah pencegahan supaya ketika mendung, "sudut mata" yang dimaksud tadi tidak tertutup.

Alternatif lainnya adalah melalui pembedahan atau operasi glaukoma. Namun, menurut spesialis mata Klinik Mata Nusantara Jakarta, dr Upik Mahna Dewi SpM, operasi merupakan alternatif terakhir dalam penanganan pasien glaukoma. "Jika bisa diatasi dengan obat-obatan atau laser, maka tindakan bedah tidak perlu dilakukan," ujarnya.

Sumber: Okezone.com

Minat jadi Guru ( Naik atau Turun )

BAB I
PENDAHULUAN



1.1 LATAR BELAKANG

Minat menjadi guru merupakan suatu modal kaderisasi bangsa dalam melahirkan para tenaga kerja yang professional dan tanggung jawab terhadap tugasnya. Pendidikan akan maju dan berkebang apabila banyak guru yang terlahir dari minat dan niat yang tulus untuk menjadi guru sehingga akan meahirkan tenaga pengajar yang solid dan bermutu. 

Tapi kenyataan yang terjadi sekarang adalah kebanyakan guru yang ada kurang bermutu atau bahkan tidak bermutu di karenakan sekarang profesi menjadi seorang guru banyak di butuhkan sehingga kebanyakan orang mengejar profesi atau pekerjaan. Tapi mereka pada umumnya hanyalah berkeinginan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup bukan di karenakan niat yang tulus.

Untuk itu di butuhkan pengarahan kepada semua orang akan pentingnya niat atau keinginan yang benar – benar tumbuh dari dalam hati sanubari yang paling dalam untuk menjadi seorang guru. Sehingga hal tersebut sejak dini mungkin di tanamkan kepada semua orang agar kedepannya dapat terpilih orang yang benar – benar punya keinginan untuk menjadi seorang guru.

1.2 TUJUAN

Karya tulis ini disusun dengan tujuan untuk meneliti mengapa akhir – akhir ini banyak fenomena sekolah kekurangan guru yang professional di Indonesia. Di samping itu, karya tulis ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah pengantar ilmu pendidikan yang di berikan kepada prodi PGSD Penjaskes Kelas A FIK UNY.

1.3 METODE PENELITIAN

Data yang dikemukakan dalam karya tulis ini diperoleh melalui berbagai cara. Pertama, dengan membaca situs – situs di internet yang ada hubungannya dengan minat siswa terhadap jabatan guru. Di samping itu, data juga diperoleh melalui pengamatan dan angket. Dalam metode angket kami melakukan observasi terhadap 35 orang di salah satu SMA di Kabupaten Klaten yaitu SMA N 1 Cawas.

1.4 SISTEMATIKA PENULISAN

Karya tulis disusun dengan urutan sebagai berikut.

 Bab I Pendahuluan, menjelaskan latar belakang, tujuan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan, Mengemukakan pembahasan masalah dan solusinya bersumber pada data yang diperoleh. 
Bab III Penutup,memuat simpulan dan saran.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan

 Jika kita amati, dalam satu dasawarsa terakhir terungkap bahwa minat masuk fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) terus merosot, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kondisi seperti itu bisa mengancam masa depan pendidikan kita, terutama untuk tingkat SLTP dan SLTA. Bagaimana jadinya kalau anak-anak kita diajar lulusan FKIP yang modal kualitasnya pas-pasan, bahkan rendah.

 Jika kita baca berbagai berita surat kabar akhir-akhir ini, terungkap bahwa beberapa daerah mulai kekurangan guru. Ini berarti antara kebutuhan guru dan mendidik calon guru belum sebanding. 

 Dengan demikian, kekurangan guru menjadi masalah dalam menanggulangi daya tampung calon terdidiknya. Masalah kekurangan guru ini akan membawa konsekuensi baru dalam dunia pendidikan, kalau tidak cepat-cepat ditanggulangi secara bersama.

 Dalam upaya mengatasi ketimpangan dalam menyiapkan tenaga kependidikan itu, diperlukan daya tarik untuk menjadi guru. Karena negara kita sekarang membutuhkan guru yang berkompetensi, pemerintah berusaha menarik minat siswa SLTA. Di samping itu, pemerintah juga terus mencari cara supaya dapat memiliki siswa yang benar-benar ingin mengabdi menjadi guru yang baik.

 Tentang minat mereka, apakah siswa yang masuk lembaga perguruan tinggi itu benar-benar ingin mengabdi menjadi guru, memang perlu diteliti. Penelitian itu untuk menentukan apakah mereka benar-benar ingin menjadi guru atau karena pelarian dari fakultas lain yang tidak menerima. Kekhawatiran kita meladeni calon mahasiswa/ siswa pelarian ini memang cukup beralasan.

 Apa jadinya nanti jika kita melihat guru-guru yang terpaksa mendidik murid? Kenyataan ini pernah terlihat pada guru yang tidak betul-betul punya jiwa pendidik dan tidak mencintai profesinya. Akibatnya memang fatal, terutama terhadap anak didik.
 Mengingat makin berkembangnya pendidikan di negara kita, kiranya masalah yang perlu kita pikirkan adalah strategi dari materi keseluruhan yang memengaruhi langsung prinsip-prinsip pendidikan. Dengan demikian, tidak diharapkan lagi berbagai masalah yang timbul kemudian bisa membuyarkan rencana semula.

 Untuk mengisi kekurangan guru itu, pemerintah menggunakan model pengangkatan guru bantu. Jika dibanding dengan guru-guru tidak tetap, nasib guru bantu masih lebih baik. Namun jika dibanding dengan guru-guru tetap, pendapatan guru bantu belum seberapa, apalagi jika dikaitkan dengan fasilitas lain.

 Mengingat imbalan para guru bantu belum memadai, masalah penempatan guru perlu mendapat pertimbangan matang. Pertimbangan tersebut bisa menyangkut segi manusiawi dan kulturasi dari berbagai tempat yang akan menjadi objek itu. Terutama bagi mereka yang akan ditempatkan yang jauh dari tempat domisilinya.
 Ada alasan yang menjadi penyebab tidak selalu ditaatinya anjuran agar lulusan tenaga kependidikan bersedia ditempatkan di mana saja dalam wilayah Indonesia. Alasan pertama, profesi guru itu kurang disukai. Kedua, bertugas di luar Jawa dipandang berat oleh sebagian besar lulusan.

2.2 Analisis Data 

Berdasarkan penelitian yang kami lakukan di SMA N 1 Cawas Klaten kami memperoleh data sebagai berikut : 

Profesi yang di pilih
Minat Jadi Guru Minat jadi Pedagang Lain - lain
8 orang 5 orang 22 orang

Keterangan : 
 Profesi lain – lain :

  1. Polisi : 2 siswa
  2. Teknisi : 1 siswa
  3. Kesehatan : 5 siswa
  4. Pengusaha : 11 siswa
  5. Nikah : 3 siswa

2.3 Faktor yang mempengaruhi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat guru yang kurang di banding dengan minat terhadap profesi lainnya, antara lain : 

a. Kesejahteraan
b. Lokasi penempatan kerja
c. Akses yang ada untuk menjadi guru ( Perguruan Tinggi yang menyediakan Fakultas Keguruan )
d. Kurangnya pengarahan
e. Daerah asal

2.4 Solusi 

 Bila alasan itu ternyata benar, kita tinggal mencari jalan keluar yang benar-benar bisa dianggap memecahkan masalah secara keseluruhan. Umpamanya saja, kita memperhatikan asal mula mereka yang akan ditempatkan ini. Kemudian memberikan gambaran yang nyata tentang suatu tempat yang akan menjadi tempat tugas itu. 

 Kalau dia berasal dari Kalimantan, tempatkan dia di Kalimantan. Kalau dia berasal dari Sumatera, suruh ia tugas di Sumatera. Bukan menempatkan mereka yang berasal dari Flores di pelosok Jawa, misalnya. Keruan saja ini akan membuat guru-guru muda tidak betah untuk bertugas di suatu tempat tertentu. Karena itu, kita di Indonesia masih mengenal daerah ramai, daerah sepi, daerah kota, dan daerah gunung.

 Jadi, sebetulnya untuk waktu ini kita percuma memberikan nilai-nilai doktrin yang memang masuk akal. Misalnya cintailah kerja mendidik di mana pun ditempatkan. Atau semisal di mana pun berada tetap profesi Anda dijuluki pendidik. 

 Kata-kata ini sebenarnya hanya akan memberikan kesan kurang menguntungkan kepada calon-calon guru yang akan ditempatkan di mana saja di pelosok Indonesia.

 Supaya kerjanya tidak tertekan dan terbuang, masalah penempatan guru perlu mendapat pertimbangan yang matang. Desas-desus atau suara burung yang mengatakan masalah penempatan guru bantu makin besar uang semirnya makin empuk dan makin dekat penempatannya hendaknya dihilangkan.

 Yang perlu dikhawatirkan, penempatan guru yang tidak tepat bisa mengubah citra guru yang berbakat menjadi terpaksa mengajar. Tidak ayal terdengar berita bahwa seorang guru melarikan diri dari tempat tugasnya untuk kembali ke kampung halamannya. 

 Dari mereka ini kebanyakan yang bekerja di luar Jawa. Mereka tidak segan-segan meninggalkan statusnya, walaupun sebenarnya sangat didambakan, kembali ke Jawa kerja apa adanya.

 Berdasarkan pengalaman di negara-negara maju itu, di mana kebutuhan minimal sarana dan fasilitas pendidikan telah relatif terpenuhi, tampak bahwa investasi biaya pendidikan melalui peningkatan kesejahteraan (gaji) guru lebih mampu meningkatkan mutu daripada melalui penyediaan sarana. Di negara kita memang agak lain persoalannya. Banyak sekolah yang kebutuhan minimal sarana pendidikan saja belum terpenuhi.

 Masalah pengelolaan dan administrasi biaya pendidikan kita terletak pada masih rumitnya prosedur pembiayaan, mulai dari perencanaan sampai pada pengelolaannya. Kerumitan itu menyangkut mata rantai birokrasi atas-bawah maupun hubungan antarinstansi satu dengan yang lain. 

 Walaupun otonomi sekolah sudah mulai menapak, masih terasa ganjalan-ganjalan dalam proses perencanaan, prosedur pengelolaan, dan distribusi anggaran pendidikan mulai dari pusat sampai ke daerah. Namun dengan berjalannya otonomi daerah, pengelolaan pendidikan mulai beralih ke kabupaten atau kota.

 Dengan bercermin pada pengalaman negara-negara maju, maka dilihat dari segi pelakunya, trigger (pelatuk) mutu pendidikan adalah kesejahteraan guru. Kesejahteraan meliputi aspek material dan nonmaterial. Yang nonmaterial, misalnya, kemudahan naik pangkat, suasana kerja yang sejuk, dan perlindungan hukum. 

 Adapun yang termasuk kesejahteraan material adalah gaji, tunjangan, dan insentif lain. Aspek material, khususnya gaji inilah yang harus secara jujur diakui masih minim. Kenaikan gaji cenderung hanya upaya mengimbangi laju inflasi. Akibatnya, secara riil daya beli para guru umumnya tidak banyak meningkat.
Walaupun secara langsung tidak berpengaruh terhadap kualitas guru, gaji guru dan mutu pendidikan memang tak terpisahkan. Negara-negara lain yang mutu pendidikannya telah lebih tinggi, mengajari kita bahwa prestasi kerja merupakan fungsi dari imbalan. Makin tinggi imbalan, makin tinggi kesungguhan, komitmen, dan produktivitas kerja, serta semakin kecil tindakan indisipliner.

 Belajar dari negara-negara yang mutu pendidikannya lebih tinggi itu pula, mereka berani menyediakan sekitar seperempat lebih anggarannya untuk sektor pendidikan. Dari jumlah itu, sebagian besar adalah untuk kesejahteraan guru. Jika gaji guru meningkat, akan meningkat pula status guru, sehingga mampu menarik calon-calon guru yang berkualitas.

 Jika sampai saat ini profesi guru kurang diminati karena mereka tahu bahwa profesi guru tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi pemimpin, memperoleh kekayaan yang banyak, kekuasaan yang cukup, atau pengaruh yang luas. Mereka yang tahu bahwa status guru rendah jelas, tidak akan memilih menjadi guru sebagai titian kariernya. 

Maka tumpuhan harapan ditujukan kepada pemerintah untuk merangsang lulusan SLTA yang berkualitas agar mau menuntut ilmu di FKIP sehingga bisa menjadi guru yang bermutu. Bagaimanapun, guru memiliki peran penting dalam memajukan pendidikan di negeri ini.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan 

  Berdasarkan sumber – sumber yang kami peroleh dan hasil analisis data yang kami dapatkan maka kesimpulan yang dapat kami ambil dari penelitian yang kami lakukan adalah minat siwa SMA terhadap profesi guru masih kurang.

3.2 Saran
  Maka saran dan tumpuhan harapan ditujukan kepada pemerintah untuk merangsang lulusan SLTA yang berkualitas agar mau menuntut ilmu di FKIP sehingga bisa menjadi guru yang bermutu. Bagaimanapun, guru memiliki peran penting dalam memajukan pendidikan di negeri ini.

DAFTAR PUSTAKA

Siswoyo, Dwi. dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.